Minggu, 23 Agustus 2015

Perjalanan Menuju Banyuwangi

 
Gambar 1. Duduk santai di kereta (saat perjalanan menuju Banyuwangi)

Hey ketemu lagi dengan Andi, wah bulan-bulan ini lagi kurang produktif nulis nih, tapi alhamdulillahnya Pandanaran Outdoor Travelling jadi tambah rame,hehe (yang belum tahu Pndanaran Outdoor Travelling klik disini). Ini adalah postingan lanjutan dari cerita saya sebelumnya (Aku Berangkat !!!), catatan perjalanan ke Banyuwangi ini akan saya bagi beberapa post. Pelan-pelan lah ya, maklum tuntutan pekerjaan juga makin banyak saat ini. Tapi nulis harus teteplah, sebelum pikun mau nyeritain tentang  perjalanan yang pernah saya alami,hehe.


     Ting...tung...ting...tung...dung...tung...ting...tung. Yap kira-kira begitulah nada-nada kedatangan kereta api. Jam 11.40 wib, lima menit sebelum keberangkatan kereta, terlihat banyak orang berdesak-desakan saat memasuki gerbong kereta tak terkecuali saya. Tak ada yang ingin terlinggal, karena kereta tidak akan menunggu siapa yang datang terlambat. Setelah berdesak-desakan, saya mendapat tempat duduk yang cukup nyaman. Saat itu masih ada beberapa bangku yang kosong, lumayanlah bisa selonjoran.

     Kereta mulai berangkat, masih ada beberapa bangku yang kosong saat itu.
A:"Mau pergi kemana mas?" tanya seorang penumpang lain yang duduk disebelah saya,
B:"Ini mas, main ke Banyuwangi" , kemudian saya mencoba menceritakan tentang keinginan menjelajahi destinasi-destinasi alam yang ada di Banyuwangi.
Saya pun berbalik tanya dan mencoba mendengarkan ceritanya. Ternyata ia sedang pulang ke Purwodadi untuk bertemu Istrinya yang sedang hamil. Ia bekerja di Semarang dan setiap satu minggu sekali pulang ke Purwodadi.
B:Loh nggak naik kendaraan pribadi aja mas, kan deket Semarang ke Purwodadi?
A:Wah males sama macetnya mas, disana masih ada perbaikan jalan, cepetan naik kereta, paling 1 jam sampai. Jawabnya
Sekitar saju jam berlalu akhirnya obrolan kami berakhir saat dia turun Purwodadi. Bangku kembali kosong, karena tidak ada teman berbincang saya perlahan-lahan tertidur dibangku kereta.

     Saat kereta berhenti di Cepu, bangku penumpang pun kembali terisi. Ada seorang bapak-bapak dan seorang wanita. Mereka bertujuan ke Surabaya. Stasiun terakhir kereta yang saya naiki ini adalah kota Surabaya. Untuk menyambung perjalanan menuju Banyuwangi akses yang tempuh selanjutnya adalah dengan mengendarai bus. Saat itu saya bertanya pada bapak-bapak disebelah, saya bertanya kepada beliau, karena dia adalah orang Surabaya. Saya berfikir pasti beliau paham betul tentang jarak dan akses yang harus ditempuh dari Stasiun Pasar Turi ke Terminal Bungur Asih. Benar saja, tidak hanya menjelaskan, ketika kereta tiba di Surabaya saya sempat di antar menuju tempat pemberhentian Bus yang bertujuan ke Terminal Bungur Asih.

     Jam 17.00 Wib, setelah saya turun dari kereta dan berjalan menuju tempat pemberhentian Bus. Tempat saya menunggu bukanlah halte, namun hanya di trotoar jalan. Banyak kendaraan-kendaraan berlalulalang di depan. Saat itu saya menunggu di warung yang berada di trotoar jalan, sambil menunggu saya memesan teh hangat untuk melegakan dahaga. Sekitar 15 menit menunggu akhirnya Bus yang dinantikan tiba. Saya bertanya kepada kondektur untuk memastikan bahwa Bus ini akan menuju ke Terminal Bungur Asih. Setelah pasti saya pun duduk dengan tenang di salah satu bangku bus yang kosong.


 Gambar 2. Suasana dalam Bus yang sempat saya abadikan

     Naik bus ini begitu berkesan, maka dari itu saya mengabadikannya ke sebuah foto. Apa sih yang bikin saya selalu ingat dengan bus kota yang satu ini?. Memang murah dengan jarak terminal bungur asih yang jauh, saya hanya dikenakan tarif sebesar Rp.6.000. Tetapi cara mengemudi pak sopir membuat jantung berdebar-debar dan memacu adrenalin. Layaknya Van Diesel di film Fast n Furious. Bisa dibanyangkan jika aksinya dilakukan di jalanan Surabaya yang saat itu sedang macet,haha. Salip sana, salip sini, banting setir ke kanan dan ke kiri, tapi alhamdulillah semua penumpang selamat sampai tujuan, pengguna jalan lain pun juga. Hampir dua jam berlalu, akhirnya saya tiba di terminal Bungur Asih pada jam 18.45 Wib.

     Setelah tiba diterminal, saya berjalan menuju tempat pemberangkatan Bus. Saat berjalan banyak calo yang menawari dan menanyakan tujuan kepada saya. Tapi saat itu harga yang mereka tawarkan terlalu tinggi, jadi saya langsung saja ke tempat pemberhentian Bus dan langsung naik ke jurusan Jember. Disini saya mendapatkan harga Rp.60.000, lumayan selisihnya jika dibandingkan calo yang menawarkan kepada saya tadi yakni Rp 150.000 (langsung sampai Banyuwangi). Jika melalui Jember maka saya harus naik Bus lagi ke Banyuwangi. Perkiraan saya dari Jember-Banyuwangi hanya 20-30rb, karena jarak kedua kota tersebut tidak terlalu jauh. Sekitar jam 19.15,Bus yang saya tumpangi berangkat. Untuk mengistirahatkan badan saya pun mencoba tidur di sepanjang perjalanan menuju kota Jember.

     Singkat cerita saya turun di Terminal Tawang Alun Jember pada jam 24.00. Saya turun di depan Terminal Bus, disini banyak warung kopi dan bus yang berlalu-lalang. Saya bersama seorang teman (bertemu di bus) berjalan menuju warung kopi di pinggir jalan. Kami memesan secangkir kopi sambil menunggu Bus ke Banyuwangi. Beberapa saat menikmati kopi panas, bus yang dinantikan tiba. Tak Sempat menghabiskan kopi, saat itu kami segera membayar kopi, kemudian segera naik ke dalam Bus.

    Bus yang kami naiki adalah Bus yang bertujuan ke Bali. Saya mencoba menahan kantuk agar tidak terlewat saat pemberhentian Bus di Kota Banyuwangi. Kondisi jalan yang sepi menjadikan sang sopir melajukan Bus dengan cepat. Karena cepatnya bus melaju, ditengah-tengah perjalanan Bus sempat mogok. Terlihat kepulan asap dari Bus, saat itu mesin Bus mengalami kerusakan yang cukup parah, sehingga para penumpang dioper ke Bus lain termasuk saya.

     Setelah ganti Bus perjalanan pun berlanjut. Tujuan saya pertama di Banyuwangi adalah Stasiun Karang Asem, tepatnya di rumah singgah Pak Rahmat (terletak tidak jauh dari Stasiun). Titik pemberhentian yang paling dekat dengan Stasiun Karangasem adalah terminal Karangente (membutuhkan waktu 10-15 menit menggunakan motor). Saat itu saya sampai Terminal Karangente pada jam 02.15 Wib, beruntung masih ada ojek di dekat terminal. Akhirnya saya ke Stasiun Karangasem naik ojek.

     Saat itu saya sampai Stasiun jam 02.30 wib. Kondisi Stasiun sangat sepi, ruko-ruko dan tempat parkir juga sepi, tidak ada aktivitas disana. Karena tidak melihat orang diarea stasiun, otomatis tidak ada tempat bertanya untuk mendapat informasi. Akhirnya saat itu saya memutuskan untuk tidur di Stasiun.

Gambar 3. Di depan Stasiun Karangasem 

     Sekian dulu catatan perjalanan saya kali ini, semoga dapat memberikan informasi yang berguna bagi teman-teman. Cerita lanjutan akan terus saya update di lain kesempatan, sekian dari saya terimakasih.


   

     
Comments
0 Comments
Facebook Comments by Media Blogger